Senin, 07 Desember 2009

Filsafat Ilmu tentang Ontologi: BEBERAPA ASUMSI DALAM ILMU DAN BATAS PENJELAJAHAN ILMU

A. Pendahuluan

Ontologi merupakan filsafat ilmu yang mengkaji apa itu ilmu sebenarnya, yakni dengan mengetahui hakikat apa yang sedang kita kaji.
Kajian ilmu secara ontologi tidak bisa terlepas dari kajian metafisika, asumsi, peluang dan batas-batas penjelajahan dari suatu ilmu itu sendiri.
Dalam metafisika, kita mengkaji tentang apakah hakikat kenyataan ini sebenar-benarnya. Bidang telaah metafisika ini merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafat, yang mana termasuk juga di dalamnya pemikiran ilmiah. Jadi, metafisika merupakan landasan dari suatu pemikiran.
Pada hakikatnya ilmu itu tidak dapat dilepaskan dari metafisika. Namun, seberapa jauh kaitan itu semuanya tergantung kita.
Ilmu merupakan pengetahuan yang mencoba menafsirkan alam ini sebagaimana adanya. Karena itu kita tidak bisa melepaskan diri dari masalah-masalah yang ada di dalamnya. Dan mau tidak mau, masalah-masalah tersebut akan muncul dalam setiap penjelajahan ilmiah. Semua permasalahan ini telah menjadi bahan kajian para ahli filsafat sejak dahulu kala.
Tafsiran metafisika ini menyangkut hal-hal gaib yang terjadi di alam. Dulu, manusia menganut paham supernaturalis, manusia berpendapat bahwa gejala-gejala alam terjadi akibat adanya kekuatan-kekuatan ghaib. Namun, seiring dengan berkembangnya kajian ilmu, maka sebagai lawan dari paham supernaturalis ini muncullah paham naturalis yang mampunyai pendapat yang berlawanan dengan paham supernaturalis ini. Paham naturalis ini kemudian berkembang menjadi paham materialis yang berpendapat bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat ghaib, melainkan oleh kekuatan yang terdapat di alam itu sendiri, yang dapat dipelajari dan dengan demikian dapat kita ketahui mengapa gejala-gejala alam itu dapat terjadi. Prinsip-prinsip materialisme ini dikembangkan oleh Demokritus.
Untuk meletakkan ilmu dalam perspektif filsafat, kita harus bertanya kepada diri sendiri. Apakah sebenarnya yang ingin dipelajari ilmu?.
Ilmu bukanlah pengetahuan yang menghasilkan hukum yang kebenarannya bersifat mutlak. Karena jika sekiranya ilmu ingin menghasilkan hukum yang kebenaranyya bersifat mutlak, maka apakah tujuan itu cukup nyata untuk dicapai oleh ilmu?. Tentu tidak, karena dalam penafsiran ilmu secara ontologi juga tidak dapat dipisahkan dari pembahasan tentang aspek asumsi dan peluang.
Kajian dari suatu ilmu tidak pernah ingin mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak. Ilmu hanya memberikan pengetahuan sebagai dasar bagi kita dalam mengambil suatu keputusan. Di mana keputusan yang kita ambil haruslah didasarkan pada penafsiran kesimpulan ilmiah yang relatif. Dengan demikian, maka kata akhir dari suatu keputusan terletak di tangan kita dan bukan pada teori-teori keilmuwan.
Telaahan ilmiah juga didasari oleh asumsi, yakni asumsi yang relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin dari suatu ilmu itu sendiri. Yang mana asumsi dan peluang itu pada dasarnya didasarkan oleh pengalaman manusia.
Karena dipengaruhi aspek asumsi dan peluang yang didasarkan oleh pemikiran manusia, maka ilmu itu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia, dan berhenti di batas pengalaman manusia. Dari sini timbullah pertanyaan. Mengapa batas-batas kajian ilmu itu dibatas hanya pada pengalaman manusia?. Jawabannya karena ilmu merupakan pengetahuan yang berfungsi sebagai alat bagi manusia dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari manusia itu sendiri. Oleh karena itu, kajian ilmu itu hanyalah sebatas pada pengalaman manusia saja.
Setelah menelaah lebih dalam tentang kajian Ontologi, kita dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya batas-batas penjelajahan ilmu ini adalah sempit sekali, karena hanya sebatas pada pengalaman manusia, bahkan dalam batas pengalaman manusia sekalipun, ilmu hanya berwenang dalam menentukan benar atau salahnya suatu pernyataan. Tentang baik buruknya suatu pernyataan tidak lagi dikaji oleh ilmu. Tetapi itu akan berpaling kepada kajian moral. Begitu juga tentang indah ataupun jeleknya suatu pernyataan, itu juga tidak dikaji dalam ilmu. Karena itu sudah merupakan kajian estetika.
Jika kita bertanya “apa yang akan terjadi setelah manusia mati?” maka pertanyaan itu tidak bisa dijawab oleh ilmu, tetapi diajukan kepada agama. Sebab, secara ontologi ilmu hanya membatasi diri pada pengkajian obyek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia.
Ilmu tidak akan dapat berdiri sendiri, karena keterbatasan dari ruang lingkup kajian ilmu itu sendiri. Oleh karena itu, ilmu tidak bisa terlepas dari aspek moral estetika dan agama, begitu juga dengan aspek-aspek lainnya.
Lantas, kenapa bisa-bisanya seseorang yang hanya menguasai sebagian ilmu itu menyombongkan diri dan berbangga diri akan ilmu yang telah ditemukan dan dikuasainya?
Sebagai manusia hendaknya kita menyadari akan keterbatasan kemampuan otak kita dalam memperdalam suatu ilmu. Manusia tidak akan mampu menguasai semua pengetahuan yang ada di alam ini. Maka untuk mempermudah manusia dalam mengkaji ilmu, ruang-ruang penjelajahan keilmuan kemudian dibagi-bagi menjadi beberapa bagian disiplin keilmuan. yang mana bagian-bagian ini semakin lama semakin sempit sesuai dengan perkembangan disiplin dari suatu ilmu, namun kajiannya akan semakin dalam.
Dulu, ilmu bersifat generalis (umum). Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kini, ilmu menjadi bersifat spesialis (khusus).
Untuk itu, dalam mengkaji ilmu kita harus menjadi orang yang spesifik dalam bidang kajian keilmuan kita. Akan tetapi, kita juga harus tahu dengan bidang lain yang berkaitan dengan bidang kita.
B. Beberapa Asumsi Dalam Ilmu
Setiap ilmu selalu memerlukan asumsi. Asumsi diperlukan untuk mengatasi penelaahan suatu permasalahan menjadi lebar. Semakin terfokus obyek telaah suatu bidang kajian, semakin memerlukan asumsi yang lebih banyak.
Asumsi dapat dikatakan merupakan latar belakang intelektual suatu jalur pemikiran. Asumsi dapat diartikan pula sebagai merupakan gagasan primitif, atau gagasan tanpa penumpu yang diperlukan untuk menumpu gagasan lain yang akan muncul kemudian. Asumsi diperlukan untuk menyuratkan segala hal yang tersirat. McMullin (2002) menyatakan hal yang mendasar yang harus ada dalam ontologi suatu ilmu pengetahuan adalah menentukan asumsi pokok (the standard presumption) keberadaan suatu obyek sebelum melakukan penelitian.
Sebuah contoh asumsi yang baik adalah pada Pembukaan UUD 1945: “ kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas bumi karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Tanpa asumsi-asumsi ini, semua pasal UUD 1945 menjadi tidak bermakna.
Apakah suatu hipotesis merupakan asumsi? Ya, jika diperiksa ke belakang (backward) maka hipotesis merupakan asumsi. Jika diperiksa ke depan (forward) maka hipotesis merupakan kesimpulan. Untuk memahami hal ini dapat dibuat suatu pernyataan: “Bawalah payung agar pakaianmu tidak basah waktu sampai ke sekolah”. Asumsi yang digunakan adalah hujan akan


jatuh di tengah perjalanan ke sekolah. Implikasinya, memakai payung akan menghindarkan pakaian dari kebasahan karena hujan.
Dengan demikian, asumsi menjadi masalah yang penting dalam setiap bidang ilmu pengetahuan. Kesalahan menggunakan asumsi akan berakibat kesalahan dalam pengambilan kesimpulan. Asumsi yang benar akan menjembatani tujuan penelitian sampai penarikan kesimpulan dari hasil pengujian hipotesis. Bahkan asumsi berguna sebagai jembatan untuk melompati suatu bagian jalur penalaran yang sedikit atau bahkan hampa fakta atau data.
Terdapat beberapa jenis asumsi yang dikenal, antara lain;
Aksioma yaitu pernyataan yang disetujui umum tanpa memerlukan pembuktian karena kebenaran sudah membuktikan sendiri. Postulat adalah pernyataan yang dimintakan persetujuan umum tanpa pembuktian, atau suatu fakta yang hendaknya diterima saja sebagaimana adanya.
Dalam menentukan suatu asumsi dalam perspektif filsafat, permasalahan utamanya adalah mempertanyakan pada pada diri sendiri (peneliti) apakah sebenarnya yang ingin dipelajari dari ilmu. Terdapat kecenderungan, sekiranya menyangkut hukum kejadian yang berlaku bagi seluruh manusia, maka harus bertitik tolak pada paham deterministik. Sekiranya yang dipilih adalah hukum kejadian yang bersifat khas bagi tiap individu manusia maka akan digunakan asumsi pilihan bebas. Di antara kutub deterministik dan pilihan bebas, penafsiran probabilistik merupakan jalan tengahnya.
Seberapa banyak asumsi diperlukan dalam suatu analisis keilmuan? Semakin banyak asumsi berarti semakin sempit ruang gerak penelaahan suatu obyek observasi. Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat analistis, yang mampu menjelaskan berbagai kaitan dalam gejala yang ada, maka pembatasan dalam bentuk asumsi yang kian sempit menjadi diperlukan.

Bagaimana cara mengembangkan asumsi ini? Asumsi harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin ilmu. Asumsi ini harus operasional dan merupakan dasar dari pengkajianteoritis
Asumsi ini harus disimpulkan dari “keadaan sebagaimana adanya” bukan “bagaimana keadaan yang seharusnya”. Jadi asumsi harus bersifat das sein bukan das sollen. Asumsi harus bercirikan positif, bukan normatif.
Lebih lanjut mengenai asumsi dan ontologi, ontologi adalah esensi dari fenomena, apakah fenomena merupakan hal yang bersifat objektif dan terlepas dari persepsi individu atau fenomena itu dipandang sebagai hasil dari persepsi individu. Mengenai hal ini, ada dua asumsi yang berbeda:
1. Nominalime: kehidupan sosial dalam persepsi individu tak lain adalah kumpulan konsep–konsep baku, nama dan label yang akan mengkarakteristikkan realitas yang ada. Intinya, realita dijelaskan melalui konsep yang telah ada.
2. Realisme: kehidupan sosial adalah merupakan kenyataan yang tersusun atas struktur yang tetap, tidak ada konsep yang mengartikulasikan setiap realita tersebut dan realita tidak tergantung pada persepsi individu.

Batas-Batas Penjelajahan Ilmu
Pada saat ilmu mulai berkembang pada tahap ontologis, manusia mulai mengambil jarak dari obyek sekitar. Manusia mulai memberikan batas-batas yang jelas kepada obyek tertentu yang terpisah dengan eksistensi manusia sebagai subyek yang mengamati dan yang menelaah obyek tersebut. Dalam menghadapi masalah tertentu, dalam tahap ontologis manusia mulai menentukan batas-batas eksistensi masalah tersebut, yang memungkinkan manusia mengenal wujud masalah itu, untuk kemudian menelaah dan mencari pemecahan jawabannya.
Dalam usaha untuk memecahkan masalah tersebut, ilmu mencari penjelasan mengenai permasalahan yang dihadapinya agar dapat mengerti hakikat permasalahan yang dihadapi itu. Dalam hal ini ilmu menyadari bahwa masalah yang dihadapi adalah masalah yang bersifat konkret yang terdapat dalam dunia nyata. Secara ontologis, ilmu membatasi masalah yang dikajinya hanya pada masalah yang terdapat pada ruang jangkauan pengalaman manusia.
Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Pembatasan ini disebabkan karena fungsi ilmu itu sendiri dalam kehidupan manusia yakni sebagai alat pembantu manusia dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Persoalan mengenai hari kemudian tidak akan kita tanyakan kepada ilmu, melainkan kepada agama.
Ruang penjelajahan keilmuan kemudian menjadi cabang-cabang ilmu. Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni filsafat alam yang kemudian berkembang menjadi rumpun ilmu-ilmu alam dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang ilmu-ilmu sosial. Ilmu-ilmu alam dibagi lagi menjadi ilmu alam dan ilmu hayat. Ilmu-ilmu sosial berkembang menjadi antropologi, psikologi, ekonomi,sosiologi dan ilmu politik.
Di samping ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, pengetahuan mencakup juga humaniora dan matematika. Humaniora terdiri dari seni, filsafat, agama, bahasa dan sejarah.
Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Fungsi ilmu yakni sebagai alat pembantu manusia dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Ilmu diharapkan membantu kita memerangi penyakit, membangun jembatan, irigasi, membangkitkan tenaga listrik, mendidik anak, memeratakan pendapatan nasional dan sebagainya. Persoalan mengenai hari kemudian tidak akan kita tanyakan kepada ilmu, melainkan kepada agama, sebab agamalah pengetahuan yang mengkaji masalah-masalah seperti itu. Ilmu-ilmu murni kemudian berkembang menjadi ilmu-ilmu terapan, seperti contoh dibawah ini :
ILMU MURNI ILMU TERAPAN
Mekanika Mekanika teknik
Hidrodinamika Teknik Aeronautikal
Teknik dan desai kapal
Bunyi Teknik Akuistik
Cahaya dan Optik Teknik Iluminasi
Kelistrika Teknik Elektronik
Magnetisme Teknik kelistrikan
Fisika nuklir Teknik nuklir.

Cabang utama ilmu-ilmu sosial yakni antropologi (mempelajari manusia dalam perspektif waktu dan tempat), psikologi (mempelajari proses mental dan kelakuan manusia), ekonomi (mempelajari manusia dalam memenuhi kebutuhannya lewat proses pertukaran), sosiologi (mempelajari struktur organisasi sosial manusia) dan ilmu politik (mempelajari sistem dan proses dalam kehidupan manusia berpemerintahan dan bernegara).
Cabang utama ilmu-ilniu sosial yang lainnya mempunyai cabang-cabang lagi seperti antropologi terpecah menjadi lima yakni, arkeologi, antropologi fisik, linguistik, etnologi dan antropologi sosial/kultural, semua itu kita golongkan ke dalam ilmu murni.
Ilmu murni merupakan kumpulan teori-teori ilmiah yang bersifat dasar dan teoritis yang belum dikaitkan dengan masalah kehidupan yang bersifat praktis. Ilmu terapan merupakan aplikasi ilmu murni kepada masalah-masalah kehidupan yang mempunyai manfaat praktis.
Banyak sekali konsep ilmu-ilmu sosil “murni” dapat diterapkan langsung kepada kehidupan praktis, ekonomi umpamanya, meminjam perkataan Paul Samuelson, merupakan ilmu yang beruntung (Fortunate) karena dapat diterapkan langsung kepada kebijaksanaan umum (public policy).
Di samping ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, pengetahuan mencakup juga humaniora dan matematika. Humaniora terdiri dari seni, filsafat, agama, bahasa dan sejarah. Matematika bukan merupakan ilmu, melainkan cara berpikir deduktif. Matematika merupakan sarana yang penting dalam kegiatan berbagai disiplin keilmuan, mencakup antara lain, geometri, teori bilangan, aljabar, trigonometri, geometri analitik, persamaan diferensial, kalkulus, topologi, geometri non-Euclid, teori fungsi, probabilitas dan statistika, logika dan logika matematika.


C. Kesimpulan
Ternyata ilmu/sains tidaklah sesederhana yang sering kita bayangkan. Sebagai user, kita umumnya memandang bahwa ilmu hanya berkutat pada pembahasan berbagai teori, riset, eksperimen atau rekayasa berbagai teknologi .

Ilmu ternyata merupakan sebuah dunia yang memilki karakter dasar, prinsip dan struktur yang kesemuanya itu menentukan arah dan tujuan pemanfaatan ilmu .

Karakter dasar, prinsip dan struktur ilmu dibangun oleh para pendiri sains moderen pada masa renaisans dimana saat itu para pendiri sains moderen pada masa menyadari bahwa bahwa hidup manusia
Memilki tujuan yaitu membangun peradaban ummat manusia dan untuk mencapai tujuannya manusia membutuhkan alat, Alat itu adalah ilmu.

1 komentar: